Kamis, 16 Agustus 2012

Menentukan Arah Kiblat Lewat Internet


 
Masyarakat tidak perlu panik menanggapi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengoreksi arah kiblat. Masyarakat bisa dengan mudah memanfaatkan teknologi penentuan arah kiblat yang bisa diakses melalui www.qiblalocator.com.

Demikian disampaikan Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaludin, dalam acara 'Diseminasi Arah Kiblat dan Penentuan Awal Ramadan', di Kantor Lapan Bandung, Kamis, 5 Agustus 2010.

Menurutnya, arah kiblat tak pernah berubah, termasuk pengaruh gempa yang menggeser lempengan bumi. "Keresahan arah kiblat dipicu sejarah, di mana dahulu publik dihadapkan pada kesulitan penentuan arah kiblat karena ilmu pengetahuan dan teknologi saat itu belum dapat digunakan untuk memastikan posisi tempat," kata Thomas Djamaludin di Bandung,

Dahulu, orang menggunakan logika untuk menentukan kiblat. Posisi Indonesia berada di timur Kabah sehingga kiblat menghadap ke barat. Saat ini, teknologi telah berkembang pesat dan mempermudah manusia untuk menentukan arah kiblat dengan benar.

Kini, masyarakat bisa dengan mudah memperhitungkan arah kiblat dengan layanan satelit di www.qiblalocator.com. Cukup ketik lokasi Anda. Setelah citra satelit memunculkan titik lokasi Anda, ikuti garis merah sebagai arah kiblat yang benar.

Peneliti matahari dan antariksa LAPAN, Abdul Rachman, menambahkan, ada juga dua cara sederhana untuk menentukan arah kiblat yakni dengan menggunakan teori sudut dan teori bayangan. Dua kali setahun matahari tepat berada di atas Kabah dan saat itu matahari berada di arah kiblat.

"Pada tanggal 28 Mei pukul 16.18 dan 16 Juli pukul 16.27. Tekniknya menggunakan tiang tegak di atas papan datar," ujar Rachman.

Model Cantik yang Membiarkan Payudaranya di Intip

Sebagai Artis atau Model memang harus dituntut tampil Cantik dan Anggun, dan tentu saja itu tak lepas dari cara bagaimana sang Artis itu sendiri dalam berpenampilan terutama dalam hal berbusana, Tapi terkadang penampilan anggun dan mempesona malah bisa menjadi Aib yang memalukan tak kala sang artis teledor dengan hal yang mungkin dianggap kecil.

Seperti Artis ini contohnya, penampilan cantik dan gaun yang terlihat anggun malah menjadi aib tak kala bagian yang harus ditutupi malah dibiarkan terbuka h
ingga bagian payudaranya dengan mudah di intip orang disekitar. cekicrroot..
_
 

Jangan Lupa Kasih Jempolnya Gan!

Mumi 'Perawan' Inca Menderita Infeksi Paru Sebelum Dikorbankan

Perawan Inca berusia 15 tahun yang dikorbankan 500 tahun lalu ternyata memendam rahasia. Remaja itu sedang menderita infeksi bakteri paru-paru pada saat kematiannya. Hal ini berdasarkan laporan para ilmuwan Rabu (25/7).

Para peneliti sudah menganalisis protein selaput, dan bukan DNA, dari si Perawan dan mumi Inca remaja lain yang meninggal di saat bersamaan.

Dalam dekade terakhir, teknik DNA memang terbukti berguna untuk memecah misteri-misteri kuno seperti bagaimana Raja Tut mati. Tetapi teknik ini masih memiliki kekurangan, misalnya menemukan bukti bahwa parasit yang menyebabkan malaria di sistem tubuh Raja Tut bukan berarti si Raja Mesir ini menderita gejala-gejala malaria. Lingkungan sekitar juga dapat merusak sampel DNA jika para peneliti tidak hati-hati.


Di sisi lain, menganalisis sampel protein, yang bisa lebih terlindung dari pencemaran lingkungan, memunculkan perangkat informasi yang berbeda. "Sebagai ekspresi DNA, protein menunjukkan apa yang dihasilkan tubuh pada saat individual diambil sampelnya, atau dalam kasus kami, pada saat kematian," kata peneliti kasus ini Angelique Corthals, antropolog forensik di City University of New York kepada LiveScience. Secara khusus, protein bisa memberi informasi apakah sistem kekebalan tubuh sedang aktif untuk melawan penyakit.

Mumi-mumi Llullaillaco
Dalam studi mereka, Corthals and kolega-koleganya mengambil sapuan mulut dari dari dua mumi Inca Andes, seorang anak laki-laki usia 7 tahun dan "si Perawan", dan sampel dari jubah si anak laki-laki yang berdarah. Dua mumi belia ini ditemukan pada 1999 dan awalnya terkubur di puncak gunung api Argentina Llullaillaco, dengan ketinggian 6739 meter di atas permukaan laut, setelah dikorbankan untuk ritual persembahan.

Riset-riset lalu menemukan bahwa anak laki-laki dan gadis muda ini digemukkan dulu sebelum persembahan. Makanan yang mereka makan adalah diet khas petani berupa kentang dan berbagai sayur-sayuran, lalu setahun sebelum persembahan mereka mulai diberi makanan elite seperti daging llama kering dan tepung jagung.
 
Mumi anak laki-laki usia 7 tahun.

Setelah dipersembahkan, suhu yang membeku secara alami mengawetkan lemak di tubuh mereka.

"Yang saya ingin lihat adalah dari mana asal darah yang ada di pakaian mumi dan bibir mereka," kata Corthals. "Tapi ternyata kami menemukan lebih banyak jawaban dari yang kami perkirakan sebelumnya."

Arkeolog juga menemukan mumi ketiga, gadis usia 6 tahun, bersama dengan dua mumi di atas. Mumi ini tampaknya tersambar petir, sehingga sampelnya mungkin terkontaminasi. Oleh karena itu, Corthals dan timnya tidak mengambil sampel dari mumi ketiga ini.

 
Mumi anak usia 6 tahun yang juga ditemukan dan diduga tersambar petir.

Infeksi paru-paru ditemukan
Para peneliti menggunakan teknik yang mereka sebut 'shotgun proteomic'. Mereka menaruh sampel ke sebuah alat beranama spectrometer massa, yang kemudian memecah sampel protein tersebut ke beberapa bagian rantai asam amino. Sebuah perangkat lunak kemudian membandingkan bagian-bagian ini dengan protein manusia yang sudah ada untuk menentukan, apa saja protein yang ada di sampel. "Anda tidak bisa menggunakan teknik ini untuk organisme yang tidak kita miliki genomnya secara lengkap," kata Corthals.

Mereka menemukan bahwa profil Si Perawan cocok dengan pasien pengidap infeksi pernapasan kronis. X-ray yang kemudian diambil dari paru-parunya juga menunjukkan infeksi paru-paru. Untuk mengetahui apakah Si Perawan memiliki sesuatu dalam tubuhnya yang mengandung infeksi, para peneliti mengubah analisis DNA dan menemukan bukti bakteri dari genus Mycobacterium, yang biasanya menyebabkan infeksi trakhea pernapasan bagian atas dan tuberculosis.

Model statistik menemukan bahwa bacterium tersebut jatuh pada kelompok penyebab TB, meski spesiesnya belum diketahui, mungkin karena DNA-nya belum diurutkan.

Sementara si anak laki-laki Llullaillaco tidak memiliki penyakit atau bakteri patogen.

Riset ini menunjukkan bahwa 'shotgun proteomic' memiliki peran penting dalam menentukan penyakit atau kematian dalam kasus arkeologi, medis, atau kriminal. Menurut Corthal, metode ini juga mungkin bisa digunakan untuk menentukan bakteri patogen mana yang menjadi pembunuh utama saat beberapa infeksi terjadi bersamaan.

Kini Corthals ingin mengetahui apakah teknik ini dapat digunakan pada sampel-sampel yang tidak terjaga dengan baik, seperti materi tengkorak atau mumi Mesir.

Berikutnya, teknik pengenalan protein ini akan digunakan di luar bidang arkeologi. "Saya rasa penggunaan terbesarnya akan terjadi di bidang ilmu forensik kriminal," kata Corthals.

Studi terbaru ini dijelaskan mendetail secara online di jurnal PLoS One.
Joseph Castro, LiveScience Contributor | LiveScience.com