Barangkali
kita sudah tidak asing lagi mendengar istilah Jenglot. Yaitu, figur
manusia super mini yang hanya seukuran 10-12 cm, yang konon katanya
adalah fosil dari orang ‘berilmu’ tinggi yang menyusut dan memiliki
kekuatan magis.
Beda lainnya juga yakni, Jenglot Indonesia belum ada atau bisa dibuktikan secara ilmiah proses penyusutannya (masih menjadi misteri), sebaliknya kepala menyusut atau Shrunken Head di Amerika Selatan proses penyusutannya dapat di jelaskan secara ilmiah dan bukan karena ‘Hal Magis’.
Nah, dalam edisi terbaru jurnal Archaeological and Anthropoligcal Sciences, para peneliti telah menganalisa bukti DNA yang mengungkapkan kisah legenda suku pemburu kepala di Amazon memang nyata.
Suku-suku tersebut membuat kepala jadi mengecil tidak dengan cara magis, tetapi dengan menghilangkan tengkorak dari kepala (setelah memenggal kepala musuh). Sayatan dibuat di bagian belakang leher dan semua kulit dan daging akan dihapus dari tempurung kepala. Biji merah ditempatkan di bawah kelopak mata dan kelopak mata yang dijahit tertutup.
Lalu bola kayu akan ditempatkan sebagai pengganti tengkorak untuk membentuk kepala ‘baru’ yang lebih kecil. Daging tersebut kemudian direbus dalam air yang telah diisi dengan sejumlah jamu yang mengandung tanin.
“Setelah dipenggal, kepala musuh dengan teliti diciutkan melalui proses perebusan dan pemanasan dalam perayaan spiritual. Ini bertujuan agar roh jahat musuh terkunci. Proses ini juga untuk melindungi pembunuhnya dari balas dendam roh musuh,” papar Gila Kahila Bar-Gal, penulis penelitian kepada Discovery News.
Konon, praktek tsansa ini memiliki makna keagamaan. Menyusutkan kepala musuh diyakini bisa mengambil semangat (spirit) si korban dan memaksanya melayani sang pemilik kepala. Hal ini juga untuk mencegah jiwa korban membalas kematiannya.
Penguasaan orang kulit putih di Amerika sempat menambah buruk perlakuan biadab ini. Orang kulit putih ternyata gemar mengoleksi tsansa, sehingga banyak praktek jual-beli tsansa. Dilaporkan, di tahun 1930-an harga sebuah tsansa hanya dibandrol 25 dollar saja.
Untungnya pemerintah Peru dan Ekuador telah melarang praktek ini.
Bagaimana dengan Jenglot di Indonesia? Apakah proses penyusutannya sama juga dengan Jenglot di Amerika Selatan?
Sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar